Kota dengan Indeks Smart City Tertinggi di Dunia. Indonesia Peringkat Berapa?
Ketika kita membicarakan "smart city", yang terlintas sering kali adalah kota futuristik dengan mobil otonom dan layanan serba digital. Namun, inti dari kota cerdas sebenarnya lebih mendasar: bagaimana teknologi digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup warganya. Setiap tahun, berbagai lembaga global merilis indeks untuk mengukur sejauh mana kota-kota di dunia mencapai tujuan tersebut. Mari kita kupas tiga indeks terkemuka dan pelajaran berharga yang bisa dipetik.
Perkembangan smart city secara global menunjukkan bahwa teknologi digital telah menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan efektivitas tata kelola pemerintahan. Melalui analisis IMD Smart City Index 2025, artikel ini mengkaji posisi kota-kota dunia, indikator penilaian, serta dampaknya bagi pemerintah daerah di Indonesia, terutama dalam mempercepat transisi menuju pemerintahan digital yang terintegrasi dan berorientasi pada kepuasan publik.
Urbanisasi, tuntutan layanan publik yang cepat, dan kebutuhan transparansi mendorong pemerintah kota di seluruh dunia mengadopsi konsep smart city. Indeks smart city global menjadi referensi strategis untuk mengukur kesiapan dan kematangan digital suatu kota.
IMD Smart City Index 2024 : Suara Warga Sebagai Ukuran Utama
Indeks dari IMD World Competitiveness Center ini unik karena memasukkan survei persepsi warga sebagai komponen kunci. Indeks tidak hanya melihat infrastruktur, tetapi juga seberapa efektif teknologi dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. IMD Smart City Index disusun oleh IMD World Competitiveness Center melalui:
- Survey Presepsi Warga Kota
- Penilaian dua dimensi utama: Struktur dan Teknologi
- Lebih dari 146 kota dunia
Lihat indeks Kota anda di sini
Statistik & Peringkat 5 Besar (2024):
- Zurich (Swiss) - Skor: 100
- Oslo (Norwegia) - Skor: 98.5
- Canberra (Australia) - Skor: 98.4
- Kopenhagen (Denmark) - Skor: 98.0
- Lausanne (Swiss) - Skor: 97.9
(Sumber: Laporan IMD Smart City Index 2024, halaman 5. Skor dinormalisasi dengan Zurich sebagai benchmark 100).
Prof. Arturo Bris, Direktur IMD World Competitiveness Center, menegaskan:
"Kota yang cerdas bukanlah kota dengan teknologi paling mutakhir, melainkan kota yang teknologi dan kebijakannya paling dihargai oleh warganya." Pernyataan ini menekankan bahwa kesuksesan smart city terletak pada adopsi dan manfaat nyata, bukan sekadar instalasi.
(Sumber: Wawancara dengan Prof. Arturo Bris dalam rilis pers IMD, April 2024)
Pembahasan
Hasil indeks menunjukkan bahwa kota unggul memiliki:
- Arsitektur digital terintegrasi
- Tata kelola data lintas sektor
- Kebijakan berbasis kebutuhan warga (citizen-centric)
Kota yang belum optimal umumnya menghadapi fragmentasi sistem, rendahnya interoperabilitas, serta keterbatasan kapasitas SDM digital.
IESE Cities in Motion Index 2023: Analisis Komprehensif 9 Dimensi
Berbeda dengan IMD, indeks dari IESE Business School ini mengambil pendekatan makro. Mereka menganalisis 183 kota berdasarkan 9 pilar, mulai dari ekonomi, tata kelola, lingkungan, hingga kohesi sosial. Ini adalah tolok ukur untuk melihat kekuatan kota secara holistik.
Peringkat 5 Besar (2023):
- London (UK)
- New York (AS)
- Paris (Prancis)
- Tokyo (Jepang)
- Reykjavik (Islandia)
(Sumber: Dashboard Interaktif IESE CIMI 2023).
Eden Strategy Institute: Fokus pada Kepemimpinan Pemerintah Kota
Laporan Eden Strategy Institute menjawab pertanyaan: "Pemerintah kota mana yang paling piawai merancang dan menjalankan strategi smart city?" Penilaian berat diberikan pada aspek kepemimpinan, visi, dan ekosistem kolaborasi yang dibangun.
Top 5 Smart City Government (2023/24):
- Seoul Metropolitan Government (Korea Selatan)
- Dubai Government (UEA)
- Barcelona City Council (Spanyol)
- Brisbane City Council (Australia)
- Government of Singapore (Singapura)
(Sumber: Laporan "Top 50 Smart City Governments" Eden Strategy Institute).
Pelajaran untuk Indonesia: Teknologi Hanya Alat, Tata Kelola adalah Kuncinya
Dari ketiga indeks tersebut, pola yang konsisten muncul adalah: teknologi hanyalah alat. Keberhasilan justru ditentukan oleh tata kelola yang baik, kepemimpinan yang visioner, dan pendekatan yang berpusat pada manusia (people-centric). Kota-kota seperti Zurich dan Seoul tidak hanya berinvestasi pada sensor dan pusat data, tetapi juga pada literasi digital warga, regulasi yang mendukung inovasi, dan model bisnis yang berkelanjutan.
Bagi para pemangku kepentingan di Indonesia. Baik di instansi pemerintahan, kalangan akademik, maupun praktisi. Pelajaran ini jelas. Membangun smart city memerlukan pondasi yang kuat: masterplan yang terintegrasi, komitmen politik jangka panjang, dan kemitraan strategis dengan penyedia solusi teknologi yang memahami konteks lokal.
Contoh Pelajaran dari Kota-Kota Peringkat Tertinggi
- Zurich: Konsisten berada di puncak dengan fokus pada integrasi data, mobilitas pintar, dan layanan kesehatan digital. S-GE
- Dubai & Abu Dhabi: Menunjukkan bagaimana strategi pemerintah yang pro-teknologi, kerja sama dengan sektor swasta, dan prioritas terhadap keselamatan digital dapat menjadikan kota lebih tangguh dan responsif. The Times of India
- Singapore: Meskipun turun beberapa peringkat, tetap menjadi contoh smart city Asia dengan layanan publik digital yang luas dan terpadu.
Tantangan Bagi Pemerintah Daerah
Tidak semua kota di Asia Tenggara mengikuti tren positif ini. Data peringkat menunjukkan : Jakarta stagnan di posisi 103, sementara Medan (113) dan Makassar (114). Berada di luar 100 besar. Hal ini mencerminkan masalah umum dibanyak Pemerintah Daerah, seperti :
- Kesenjangan infrastruktur digital
- Kurangnya infrastruktur layanan lintas OPD
- Data governance dan interoperabilitas yang belum matang
- Rendahnya partisipasi publik dalam pemanfaatan digital.
Kesimpulan & Relevansi Pemerintah Digital di Indonesia.
Indeks Smart City jangan disalah artikan sebagai perlombaan peringkat : ia adalah alat strategis untuk memetakan kesiapan digital, kepuasn warga, dan kemampuan wilayah menyesuaikan pelayanan publik di era teknologi. Hasilnya memperlihatkan bahwa kota dengan strategi digital yang matang, kolaboratif, dan berbasis data cenderung lebih unggul baik dalam indeks maupun dalam realitas layanan sehari-hari.
Bagi pemerintah daerah di Indonesia, tren ini menjadi wake-up call sekaligus inspirasi. Integrasi data, layanan digital terpadu, dan penguatan kapasitas SDM adalah pondasi yang tidak bisa ditunda lagi.
Dalam konteks itulah, PT Tatacipta Teknologi Indonesia (TATI) hadir sebagai mitra strategis untuk membantu pemerintah daerah merancang arsitektur smart city yang robust, menguatkan tata kelola data, dan mengimplementasikan layanan digital yang berkelanjutan, menghubungkan kebijakan dengan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Dengan pendekatan berbasis data dan teknologi, TATI membantu pemerintah mempercepat langkah dari perencanaan menuju realisasi transformasi kota yang lebih cerdas, inklusif, dan kompetitif di kancah global.
